Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Arus Baru Sastera Singapura (ARUSS)
~ Memekar Susastera Medina Singa ~

Arus Baru Sastera Singapura
Join this Group!Add to My Yahoo
Report Abuse

Sebarang terbitan di laman ini adalah hakcipta terpelihara penulis masing-masing

Untuk mengambil entri terbitan laman: sila pautkan kembali ke laman ini

Untuk mengambil karya: sila minta izin penulis sendiri.
Penulis berhak mengambil tindakan atas plagiarisme.



HUBUNGI ARUSS di: arussdotsg@gmaildotcom

Untuk pemberitahuan kegiatan anda: aruss[@]yahoogroupsdotcom


' ISMAP
Blog EntryApr 17, '08 7:42 AM
by S.K for everyone
Salam,

Bolehlah meletakkan puisi pilihan yang akan dideklamasikan di sini supaya pengunjung blog ni lebih fokus :)

Wassalam.

10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
jahmujahadah wrote on Apr 17, '08
Daripada CG Karmin :)

Pilihan saya. Saya berharap Elmi dapat deklamasikan 'Bunga Popi'. Saya akan deklamasi 'Penjual Air Batu':

Penjual Air Batu

Pelan-pelan di pinggir jalan kota,
Penjual air batu suaranya ditelan deru kereta,
Ia bisa ditulikan dengan pekikan hon-hon,
Tuan-tuan yang terganggu bisa pula menghamun.

Undang-undang ialah suatu kekuasaan,
Yang biasanya untuk orang-orang bawahan,
Dan berseraklah orang-orang pakaian seragam,
Memburu tangkapan yang 'melanggar aturan'.

Anak-anak di bawah kolong, perutnya kosong,
Ah' ayah belum pulang, manakah dia?
Isteri menanti dengan hati separuh bingung,
Tunggulah, betapa ia pulang jua.

(Sampai gelap merangkak menghampiri,
Penjual air batu belum pulang lagi)

Tapi berapa kali tangkapan terjadi,
Ia usahakan untuk berjual mencari rezeki.

Bilakah ruang keadilan memberi isi,
Para penjaja dalam hayatnya wajah berseri?
Bila nanti undang-undang jadi perlindungan,
Semua manusia tanpa kasta menerima keadilan



Bunga Popi

Dari darah, dari nanah yang punah di tanah,
Rangka manusia kehilangan nyawa disambar senjata,
Hasil manusia gila perang membunuh mesra,
Bunga merah berkembang indah minta disembah.

Yang hidup tinggal sisa nyawa, penuh derita,
Kering, bongkok, cacat, tempang dan buta,
Perang dalam kenangan penuh kengerian,
Sekarang dalam kepahitan, dalam kesepian.

Yang lain kehilangan anak, suami dan kekasih,
Hilang pergantungan, hilang pencarian, hidup kebuluran,
Ribuan janda, ribuan kecewa, ribuan sengsara,
Jutaan anak-anak yatim hidup meminta-minta.

Manusia gila perang telah membunuh segala mesra!
Perang berlangsung mencari untung tanah jajahan!
Perang berlangsung membunuh anak dalam buaian!
Perang berlangsung menghancur lebur nilai kebudayaan!

Bunga popi bunga mayat perajurit bergelimpangan,
Bunga darah merah menyimbah, penuh kengerian,
Kami benci pada perang pembunuhan!
Kami rindu pada damai sepanjang zaman!
jahmujahadah wrote on Apr 18, '08
Dari RK, seorang penikmat...
(Alaaa, bolehlah deklamasikan......)

Salam semua
Saya harap saya dapat turut hadir sebagai pemerhati.
Walau bagaimanapun saya suka puisi alayarham yang ini kerana ianya menjurus kepada hati - topik yang licit ;-)

PROSA AIR MATA

Bahawasanya air mata
tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh…
tidak pula memilih waktu untuk menitis…

Air mata adalah kepunyaan bersyarikat…
dipunyai oleh orang-orang melarat yang tinggal
di dangau-dangau yang buruk oleh tukang sabit yang masuk
ke padang yang luas dan ke tebing yang curam,
dan juga oleh penghuni-penghuni gedung-gedung yang permai
dan istana-istana yang indah.
Bahkan di situ lebih banyak orang menelan ratap dan memulas tangis.
Luka di jiwa yang mereka hidapkan, dilingkung oleh tembok dinding
yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan
oleh orang luar atau yang mereka ketahui hanya
senyuman saja,
padahal senyum itu penuh dengan kepahitan

~ Usman Awang

Juga mengingatkan saya jelas pada kata-kata Abdul Hadi W.M. (penyair tahun 70- 80an
"Hati seorang pecinta itu adalah sarang kerinduan/Hati orang yang rindu, sarang kedekatan/Hati orang yang dekat, sarang keakraban/Hati orang yang akrab, sarang ma’rifat.

Tingkat nikmatnya?
jahmujahadah wrote on Apr 18, '08, edited on Apr 19, '08
Salam,

S.K ingin menafsirkan puisi "Jentayu" dengan deklamasi dari S.K sendiri:

JENTAYU

Di paruhmu kemilauan sinar
Menyepuhi sejuta rasa
Kemuliaan di hatimu
Bening budi terdampar di jagat raya
Di sayap taufan kau jelajahi
Awan gemawan membawa rindu
Kasihmu menentangi kezaliman
Ketidakadilan

Jentayu
Patah sayap bertongkat paruh
Jentayu
Patah paruh bertongkat siku
Jentayu
Patah siku bertongkat dagu
Jentayu
Patah dagu bertongkat kuku
Pinjamkanlah hatimu
Untuk semua
Pinjamkanlah syahdumu
jahmujahadah wrote on Apr 18, '08
Pilihan Juan_Einriqie:

Dari Bintang Ke Bintang ~ Usman Awang

Ketika mata saling menyapa senyum berbunga
Tasik hati mu mencecah jiwaku mesra
Betapa debar dada kurnia alam kasih bertakhta
Kau datang tanpa suara, menjamahku tanpa sabda

Subur laksana ladang petani di lereng gunung
Ranum menguntum dalam wujud rasa maha agung
Mata yang memberi hati ini penuh menanti
Kureguk kasih menghadapi hidup seluruh berani

Kini kulihat kepalamu tersandar di jinjang pelamin
Rambutmu tersanggul terandam mengilau di cahaya lilin
Gemersik kainmu membisikkan bahagia malam pengantin
Melimpah tumpah bahagia dalam tawa teman keliling

Ketika malam kulihat matamu pada bintang
Senyummu melambai di gemilang sinar bulan
Dari bintang ke bintang kunantikan lagumu
Hanya kerdipan dalam bisu suara hatiku bimbang

Jika aku berdiri di muka jendela hati terluka
Bulan sedang mengintai di balik awan kusapa
Angin yang datang dari pelaminmu kutanya
Ia bisa mengabarkan saat adinda sedang bahagia
jahmujahadah wrote on Apr 18, '08
Herman.Mutiara suka puisi ni, yang dilagukan Kopratasa:

KEKASIH

Akan kupintal buih-buih
menjadi tali mengikatmu

Akan kuanyam gelombang-gelombang
menjadi hamparan ranjang tidurmu

Akan kutenun awan-gemawan
menjadi selendang menudungi rambutmu

Akan kujahit bayu gunung
menjadi baju pakaian malammu

Akan kupetik bintang timur
menjadi kerongsang menyinari dadamu

Akan kujolok bulan gerhana
menjadi lampu menyuluhi rindu

Akan kurebahkan matari
menjadi laut malammu
menghirup sakar madumu

Kekasih,
hitunglah mimpi
yang membunuh realiti
dengan syurga ilusi.
jahmujahadah wrote on Apr 19, '08
Salam,

Ini ialah puisi pertama Usman Awang yang S.K baca dan hayati dan membuat hati terpaut pada penulisan Allahyarham seterusnya...
Alhaque, allahyarham seorang pejuang sosial melalui puisinya, sebenarnya...
Akak lebih prefer dia dari Chairil Anwar...
Berda'awah perlu banyak penjurunya... tak semestinya semuanya keras... kelembutan ada kesaktiannya...

Gadis Kecil - Usman Awang

Tubuh itu mengingatkan daku
sebatang pinang di desa sepi
kurus dan tinggi
ketika ribut besar
pohon sekitarnya rebah terkapar
dan pohon pinang tegak menanti
sinar mentari pagi

Demikianlah gadi kecil itu
kurus seperti sebatang pinang
bertahun berulang-alik melalui
penjara kawat duri menemui
ayahnya yang bertahun pula sendiri
menentang tiap penderitaan
tabah dan beriman.

Gadis kecil itu mengagumkan daku
tenang dan senyuman yang agung
dengan sopan menolak pemberianku
'saya tak perlu wang, pak cik,
cukuplah kertas dan buku.'

Usianya terlalu muda
Jiwanya didewasakan oleh pengalaman
tidak semua orang mencapai kekuatan demikian
ketabahan yang unik, mempesonakan.
Bila aku menyatakan simpati dan dukaku
rasa pilu terhadapnya

sekali lagi dia tersenyum dan berkata:
'jangan sedih, pak cik, tabahkan hati
banyak anak-anak seperti saya di dunia ini.'

Aku jadi terpaku
dia, si gadis kecil itu menenteramkan
mengawal ombak emosiku
jangan sedih melihat derita pahitnya.
Alangkah malunya hati seorang lelaki dewasa
yang mahu membela manusia derita terpenjara
menerima nasihat supaya tabah dan berani,
dari anak penghuni penjara sendiri?

Sepuluh anak seperti dia
akan menghapuskan erti seribu penjara.
mutiara75 wrote on Apr 19, '08
Satu lagi sajak Allahyarham yang sering dilagukan ialah 'Ke Makam Bonda', yang baru-baru ini dinyanyikan oleh kumpulan nasyid Unic. Tapi saya lebih suka versi yang dinyanyikan Nuradee dalam album pertama mereka 'Tekad'. Versi Nuradee lebih menusuk kalbu dan menggetar di jiwa kerana mereka menulis lagu itu ketika ibu mereka sendiri meninggal dunia dan ilham dari lagu itu datang ketika mereka menziarahi pusara ibu mereka di pagi Hari Raya tidak berapa lama selepas itu.

(Lagu 'Tekad' juga diilhamkan dari puisi tulisan Mohd Latif Mohd... yeay... bulan depan boleh nyanyikan)... but that is another story for another 'Karyaria'.)

Siapa nak nyanyikan 'Ke Makam Bonda'?



KE MAKAM BONDA

Kami mengunjungi pusara bonda
Sunyi pagi disinari suria
Wangi berseri puspa kemboja
Menyambut kami mewakili bonda

Tegak kami di makam sepi
Lalang-lalang tinggi berdiri
Dua nisan terkapar mati
Hanya papan dimakan bumi

Dalam kenangan kami melihat
Mesra kasih bonda menatap
Sedang lena dalam rahap
Dua tangan kaku berdakap

Bibir bonda bersih lesu
Pernah dulu mengucupi dahiku
Kini kurasakan kasihnya lagi
Meski jauh dibatasi bumi

Nisan batu kami tegakkan
Tiada lagi lalang memanjang
Ada doa kami pohonkan
Air mawar kami siramkan

Senyum kemboja mengantar kami
Meninggalkan makam sepi sendiri
Damailah bonda dalam pengabadian
Insan kerdil mengadap Tuhan

Begitu bakti kami berikan
Tiada sama bonda melahirkan
Kasih bonda tiada sempadan
Kemuncak murni kemuliaan insan

alhaque wrote on Apr 24, '08
Okay. Saya dah pilih puisi yang akan saya bacakan akhirnya. Ya Kak Khadijah, saya dapati banyak puisinya mengkritik keadaan sosial. Dan memang beliau seorang pejuang. Sebenarnya saya kurang sihat beberapa hari yang lalu. Suara sekarang ni serak. Harap-harap esok sudah pulih.

Salam Benua
Usman Awang

i

Mereka memisahkan kita
pasport visa wilayah segala tembok nama
mereka merompak kita dengan undang-undang
peluru dikirimkan dalam bungkusan dollarnya
kita dipaksa memilih salah satu
dan kita mesti memilihnya
tiada jalan lain

ii

telah saudara pilih senapang dan peluru
banyak pemimpin memilih dollarnya
untuk ini saudara membasahi baju
rumput-merah sungai-merah
tangis anak-anak
darah rakyat tertindas

iii

saudara memerah kaktus melumat batu
menjadikannya minuman makanan
gadis-gadis bekerja debu pasir dandannya
anak-anak kecil menyandang senapang
saudara menghitam langit menyelubungi
saluran minyak
setengahnya menyanyi di penjara
untuk pembebasan Palestin

iv

Kami bertatih di sawah semakin kering
petani-petani mulai menebang hutan dara
permulaan kecil pada ketenangan segumpal awan
ketenangan yang di belakangnya memangkas kami
yang sedikit ini sedang belajar
dari tiap pengalaman saudara
dan pengalaman sendiri
kami memampatkan gerhana bulan mei
pada tujuan tepat
nusantara ini

v

Salam
tanpa visa
pasport
golf
warna
kemanusiaan rakyat
seluruh benua.


jahmujahadah wrote on Apr 24, '08, edited on Apr 24, '08
Salam,

ShafakaAllah, ukhaiyy!

Puisi POWER tu!

Irah? Embun? How?
CG, Yati yang suara power tu tak nak join, ke? ;)

Ada tiga puisi yang belum "berpunya" ;D

Wassalam...
minenyours wrote on Apr 25, '08
salam semua...ni sajak yang irah akan deklamasikan nanti..maaf ye lambat letak...

Tajuk: Mereka Tidak Menangis Lagi (Untuk Wanita Berani)

Hari ini sejarah telah bersuara
Kebangkitan mereka
yang dulu tersenyum dengan bunga
yang dulu hanya berkata
sedu dari bening air mata

dari bunga dan air mata
tudung kepala dan menghias diri
atas ajaran lelaki,
mereka sederap mencabar
hak yang tak pernah mereka miliki

takdir tidak lagi diturunkan oleh lelaki
yang berapa abad menguasai kehidupan
satu demi satu penindasan
kini sedang mereka kebumikan

betapa mereka diperdagangkan
dari sistem lelaki kapitalisme;
betapa mereka diperhamba dari aturan lelaki feudalisme;
betapa pula mereka sama dimuliakan
dalam persamaan hak sistem sosialisme!

wanita berani tidak lagi menangis
zaman kebangkitan setiakawan
dengan sayap taufan

=)
Add a Comment