Pilihan saya. Saya berharap Elmi dapat deklamasikan 'Bunga Popi'. Saya akan deklamasi 'Penjual Air Batu':
Penjual Air Batu
Pelan-pelan di pinggir jalan kota, Penjual air batu suaranya ditelan deru kereta, Ia bisa ditulikan dengan pekikan hon-hon, Tuan-tuan yang terganggu bisa pula menghamun.
Undang-undang ialah suatu kekuasaan, Yang biasanya untuk orang-orang bawahan, Dan berseraklah orang-orang pakaian seragam, Memburu tangkapan yang 'melanggar aturan'.
Anak-anak di bawah kolong, perutnya kosong, Ah' ayah belum pulang, manakah dia? Isteri menanti dengan hati separuh bingung, Tunggulah, betapa ia pulang jua.
(Sampai gelap merangkak menghampiri, Penjual air batu belum pulang lagi)
Tapi berapa kali tangkapan terjadi, Ia usahakan untuk berjual mencari rezeki.
Bilakah ruang keadilan memberi isi, Para penjaja dalam hayatnya wajah berseri? Bila nanti undang-undang jadi perlindungan, Semua manusia tanpa kasta menerima keadilan
Bunga Popi
Dari darah, dari nanah yang punah di tanah, Rangka manusia kehilangan nyawa disambar senjata, Hasil manusia gila perang membunuh mesra, Bunga merah berkembang indah minta disembah.
Yang hidup tinggal sisa nyawa, penuh derita, Kering, bongkok, cacat, tempang dan buta, Perang dalam kenangan penuh kengerian, Sekarang dalam kepahitan, dalam kesepian.
Yang lain kehilangan anak, suami dan kekasih, Hilang pergantungan, hilang pencarian, hidup kebuluran, Ribuan janda, ribuan kecewa, ribuan sengsara, Jutaan anak-anak yatim hidup meminta-minta.
Manusia gila perang telah membunuh segala mesra! Perang berlangsung mencari untung tanah jajahan! Perang berlangsung membunuh anak dalam buaian! Perang berlangsung menghancur lebur nilai kebudayaan!
Bunga popi bunga mayat perajurit bergelimpangan, Bunga darah merah menyimbah, penuh kengerian, Kami benci pada perang pembunuhan! Kami rindu pada damai sepanjang zaman!
Dari RK, seorang penikmat... (Alaaa, bolehlah deklamasikan......)
Salam semua Saya harap saya dapat turut hadir sebagai pemerhati. Walau bagaimanapun saya suka puisi alayarham yang ini kerana ianya menjurus kepada hati - topik yang licit ;-)
PROSA AIR MATA
Bahawasanya air mata tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh… tidak pula memilih waktu untuk menitis…
Air mata adalah kepunyaan bersyarikat… dipunyai oleh orang-orang melarat yang tinggal di dangau-dangau yang buruk oleh tukang sabit yang masuk ke padang yang luas dan ke tebing yang curam, dan juga oleh penghuni-penghuni gedung-gedung yang permai dan istana-istana yang indah. Bahkan di situ lebih banyak orang menelan ratap dan memulas tangis. Luka di jiwa yang mereka hidapkan, dilingkung oleh tembok dinding yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan oleh orang luar atau yang mereka ketahui hanya senyuman saja, padahal senyum itu penuh dengan kepahitan
~ Usman Awang
Juga mengingatkan saya jelas pada kata-kata Abdul Hadi W.M. (penyair tahun 70- 80an "Hati seorang pecinta itu adalah sarang kerinduan/Hati orang yang rindu, sarang kedekatan/Hati orang yang dekat, sarang keakraban/Hati orang yang akrab, sarang ma’rifat.
jahmujahadah wrote on Apr 18, '08, edited on Apr 19, '08
Salam,
S.K ingin menafsirkan puisi "Jentayu" dengan deklamasi dari S.K sendiri:
JENTAYU
Di paruhmu kemilauan sinar Menyepuhi sejuta rasa Kemuliaan di hatimu Bening budi terdampar di jagat raya Di sayap taufan kau jelajahi Awan gemawan membawa rindu Kasihmu menentangi kezaliman Ketidakadilan
Jentayu Patah sayap bertongkat paruh Jentayu Patah paruh bertongkat siku Jentayu Patah siku bertongkat dagu Jentayu Patah dagu bertongkat kuku Pinjamkanlah hatimu Untuk semua Pinjamkanlah syahdumu
Ketika mata saling menyapa senyum berbunga Tasik hati mu mencecah jiwaku mesra Betapa debar dada kurnia alam kasih bertakhta Kau datang tanpa suara, menjamahku tanpa sabda
Subur laksana ladang petani di lereng gunung Ranum menguntum dalam wujud rasa maha agung Mata yang memberi hati ini penuh menanti Kureguk kasih menghadapi hidup seluruh berani
Kini kulihat kepalamu tersandar di jinjang pelamin Rambutmu tersanggul terandam mengilau di cahaya lilin Gemersik kainmu membisikkan bahagia malam pengantin Melimpah tumpah bahagia dalam tawa teman keliling
Ketika malam kulihat matamu pada bintang Senyummu melambai di gemilang sinar bulan Dari bintang ke bintang kunantikan lagumu Hanya kerdipan dalam bisu suara hatiku bimbang
Jika aku berdiri di muka jendela hati terluka Bulan sedang mengintai di balik awan kusapa Angin yang datang dari pelaminmu kutanya Ia bisa mengabarkan saat adinda sedang bahagia
Ini ialah puisi pertama Usman Awang yang S.K baca dan hayati dan membuat hati terpaut pada penulisan Allahyarham seterusnya... Alhaque, allahyarham seorang pejuang sosial melalui puisinya, sebenarnya... Akak lebih prefer dia dari Chairil Anwar... Berda'awah perlu banyak penjurunya... tak semestinya semuanya keras... kelembutan ada kesaktiannya...
Gadis Kecil - Usman Awang
Tubuh itu mengingatkan daku sebatang pinang di desa sepi kurus dan tinggi ketika ribut besar pohon sekitarnya rebah terkapar dan pohon pinang tegak menanti sinar mentari pagi
Demikianlah gadi kecil itu kurus seperti sebatang pinang bertahun berulang-alik melalui penjara kawat duri menemui ayahnya yang bertahun pula sendiri menentang tiap penderitaan tabah dan beriman.
Gadis kecil itu mengagumkan daku tenang dan senyuman yang agung dengan sopan menolak pemberianku 'saya tak perlu wang, pak cik, cukuplah kertas dan buku.'
Usianya terlalu muda Jiwanya didewasakan oleh pengalaman tidak semua orang mencapai kekuatan demikian ketabahan yang unik, mempesonakan. Bila aku menyatakan simpati dan dukaku rasa pilu terhadapnya
sekali lagi dia tersenyum dan berkata: 'jangan sedih, pak cik, tabahkan hati banyak anak-anak seperti saya di dunia ini.'
Aku jadi terpaku dia, si gadis kecil itu menenteramkan mengawal ombak emosiku jangan sedih melihat derita pahitnya. Alangkah malunya hati seorang lelaki dewasa yang mahu membela manusia derita terpenjara menerima nasihat supaya tabah dan berani, dari anak penghuni penjara sendiri?
Sepuluh anak seperti dia akan menghapuskan erti seribu penjara.
Satu lagi sajak Allahyarham yang sering dilagukan ialah 'Ke Makam Bonda', yang baru-baru ini dinyanyikan oleh kumpulan nasyid Unic. Tapi saya lebih suka versi yang dinyanyikan Nuradee dalam album pertama mereka 'Tekad'. Versi Nuradee lebih menusuk kalbu dan menggetar di jiwa kerana mereka menulis lagu itu ketika ibu mereka sendiri meninggal dunia dan ilham dari lagu itu datang ketika mereka menziarahi pusara ibu mereka di pagi Hari Raya tidak berapa lama selepas itu.
(Lagu 'Tekad' juga diilhamkan dari puisi tulisan Mohd Latif Mohd... yeay... bulan depan boleh nyanyikan)... but that is another story for another 'Karyaria'.)
Siapa nak nyanyikan 'Ke Makam Bonda'?
KE MAKAM BONDA
Kami mengunjungi pusara bonda Sunyi pagi disinari suria Wangi berseri puspa kemboja Menyambut kami mewakili bonda
Tegak kami di makam sepi Lalang-lalang tinggi berdiri Dua nisan terkapar mati Hanya papan dimakan bumi
Dalam kenangan kami melihat Mesra kasih bonda menatap Sedang lena dalam rahap Dua tangan kaku berdakap
Bibir bonda bersih lesu Pernah dulu mengucupi dahiku Kini kurasakan kasihnya lagi Meski jauh dibatasi bumi
Nisan batu kami tegakkan Tiada lagi lalang memanjang Ada doa kami pohonkan Air mawar kami siramkan
Senyum kemboja mengantar kami Meninggalkan makam sepi sendiri Damailah bonda dalam pengabadian Insan kerdil mengadap Tuhan
Begitu bakti kami berikan Tiada sama bonda melahirkan Kasih bonda tiada sempadan Kemuncak murni kemuliaan insan
Okay. Saya dah pilih puisi yang akan saya bacakan akhirnya. Ya Kak Khadijah, saya dapati banyak puisinya mengkritik keadaan sosial. Dan memang beliau seorang pejuang. Sebenarnya saya kurang sihat beberapa hari yang lalu. Suara sekarang ni serak. Harap-harap esok sudah pulih.
Salam Benua Usman Awang
i
Mereka memisahkan kita pasport visa wilayah segala tembok nama mereka merompak kita dengan undang-undang peluru dikirimkan dalam bungkusan dollarnya kita dipaksa memilih salah satu dan kita mesti memilihnya tiada jalan lain
ii
telah saudara pilih senapang dan peluru banyak pemimpin memilih dollarnya untuk ini saudara membasahi baju rumput-merah sungai-merah tangis anak-anak darah rakyat tertindas
iii
saudara memerah kaktus melumat batu menjadikannya minuman makanan gadis-gadis bekerja debu pasir dandannya anak-anak kecil menyandang senapang saudara menghitam langit menyelubungi saluran minyak setengahnya menyanyi di penjara untuk pembebasan Palestin
iv
Kami bertatih di sawah semakin kering petani-petani mulai menebang hutan dara permulaan kecil pada ketenangan segumpal awan ketenangan yang di belakangnya memangkas kami yang sedikit ini sedang belajar dari tiap pengalaman saudara dan pengalaman sendiri kami memampatkan gerhana bulan mei pada tujuan tepat nusantara ini
v
Salam tanpa visa pasport golf warna kemanusiaan rakyat seluruh benua.
salam semua...ni sajak yang irah akan deklamasikan nanti..maaf ye lambat letak...
Tajuk: Mereka Tidak Menangis Lagi (Untuk Wanita Berani)
Hari ini sejarah telah bersuara Kebangkitan mereka yang dulu tersenyum dengan bunga yang dulu hanya berkata sedu dari bening air mata
dari bunga dan air mata tudung kepala dan menghias diri atas ajaran lelaki, mereka sederap mencabar hak yang tak pernah mereka miliki
takdir tidak lagi diturunkan oleh lelaki yang berapa abad menguasai kehidupan satu demi satu penindasan kini sedang mereka kebumikan
betapa mereka diperdagangkan dari sistem lelaki kapitalisme; betapa mereka diperhamba dari aturan lelaki feudalisme; betapa pula mereka sama dimuliakan dalam persamaan hak sistem sosialisme!
wanita berani tidak lagi menangis zaman kebangkitan setiakawan dengan sayap taufan